Demam Mereng-mereng

Sudah lebih dari 2 bulan saya terkena demam ini, demam mereng-mereng. Mereng-mereng sendiri merujuk pada kata miring-miring ketika melibas tikungan menggunakan sepeda motor, istilahnya Cornering. Saya sendiri tidak tahu darimana tertular virus mematikan ini. Saya katakan mematikan karena cukup menguras isi dompet untuk dapat melakukan mereng dengan nyaman sehingga sempurna, terlepas skill pengendara tentunya.

Seingat saya, keinginan ini muncul ketika saya sering membuka video yang dibuat oleh akun BlackBlueSatria di Youtube. Beliau, menggunakan Satria F sebagai tunggangannya. Beberapa video menunjukan bahwa beliau sering latihan di sirkuit Gery Mang Subang. Padahal jarak antara rumah saya dengan sirkuit tersebut terbilang tidak begitu jauh, tapi kenapa keinginan ini baru muncul baru-baru ini tidak dari dulu. 😦

Saya langsung melihat kondisi motor. Suspensi depan bocor karena seal karetnya yang sudah termakan usia (lebih dari 10 tahun) rebound harus disetel sedikit hard. Sedangkan suspensi belakang tidak ada tanda kebocoran hanya saja tampilan cat luar kondisinya sangat mengenaskan tapi performa reboundcukup hard.

Stang jepit drag 15 derajat di pensiunkan dan diganti menggunakan stang standar Nova Sonic. Selahan di lengserkan, karena kata teman saya yang biasa nyentul, selahan harus dicopot ketika memasuki sirkuit karena alasan keamanan.

Footstep underbound tetap dipertahankan meskipun ada perasaan tega gak tega karena kalau jatoh entah apa yang akan terjadi.

Ban ukuran 50 (depan) dan 60 (belakang) diganti menggunakan FDR XT 90/80 (depan) dan XR 90/80 (belakang). Velg tetap menggunakan TDR U-shape, walaupun awalnya ada rencana memakai velg bawaan (racing) tapi mau nyobain dulu pake velg jari-jari ini.

Perubahan paling memakan waktu ada di perubahan rem cakram belakang menjadi rem tromol. Tromol belakang menggunakan Kharisma, tutup tromol Kharisma, nap gear Kharisma, gear belakang 43 Rajawali, paha rem Thailand, kawat rem diganti menggunakan tali baja Thailand. Alasannya adalah agar beban motor menjadi lebih ringan, juga putaran roda menjadi lebih ringan dan tidak seret.

Sayangnya, hingga sekarang motor belum saya pakai untuk latihan meskipun beberapa waktu lalu adek kelas saya (pengguna Ninja 250) mengajak saya untuk track day di Gery Mang. Ke sirkuitnya sempet, tapi belum benar-benar mengaspal di sirkuit. Masih menjadi penonton dan mereng liar di lembang, eh. Mungkin lain kali.

Advertisements

Author: Abdullah Adnan

Passionate Writer based on Bandung, Indonesia. Tweet me on @adnanomatic.